Sunday, March 20, 2011

Negeri ini Mati?

Mati adalah salah satu fenomena yang hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup manusia. Mati secara konstektual menyebabkan berbagai fungsi organ tubuh, terutama otak berhenti bekerja. Meskipun ada istilah mati suri, kondisi ini sebenarnya berbeda dimana fungsi otak masih bekerja, jadi pada hakikatnya masih belum dapat dikatakan mati.

Melirik kasus PLTN di Jepang. Sebagaimana diketahui  ancaman nuklir diawali oleh kegagalan generator pendingin mengendalikan panas pada generator nuklir akibat guncangan gempa dan bencana alam Tsunami, yang  meskipun telah berlalu beberapa minggu namun masih menyisakan ancaman dan ketakutan.

Setidaknya ancaman dan ketakutan itu mungkin sudah hilang dari Suicide Squad yang dikirimkan oleh pemerintah Jepang ke wilayah Pesisir Timur Jepang tersebut. Suicide Squad terdiri atas teknisi dan orang-orang yang  cukup berumur yang sadar akan bahaya Nuklir tersebut. Salah satu bahayanya adalah adanya ancaman kanker dan kerusakan kromosom gen.

Istilah Nuklir bagi orang awam mungkin suatu hal yang menakutkan, padahal jika ditilik dari sisi etimologi, nuklir sendiri sebenarnya adalah inti atom. Yang mana inti atom ini pada dasarnya bisa "dikendalikan" asalkan anda memiliki pemahaman yang cukup mengenai hal ini.

Untuk PLTN sendiri inti atom yang digunakan adalah Uranium. Yang jumlahnya tidak begitu berlimpah, namun sangat esensial untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan. Selain itu, PLTN menggunakan sistem pengolahan yang sangat bersih di bandingkan sumber energi lain.

Jika saja Indonesia mau berpikir lebih dalam, Indonesia sangat potensial menggunakan sumber energi ini, karena penggunaan energi lain di Indonesia telah di gunakan "seoptimal" mungkin untuk kepentingan pihak asing.

Coba lihat kasus perusahaan Freueeport dan Chevpvron yang mengeksploitasi negeri ini. Untuk Freeueport sendiri, pemerintah telah memperpanjang kontrak usahanya hingga sepuluh tahun pada pemerintahan "kebo", sedangkan Chevpvron adalah perusahaan pengolahan minyak milik asing, yang dikelola sebagian besar oleh putra-putri terbaik bangsa. Sungguh sebuah ironi. Mungkinkah pemerintah tidak berpikir panjang? Apakah tidak ada lagi teknokrat handal yang mencintai negeri ini?

Jika ingin berpikir lebih kritis lagi, mungkin saja perdebatan yang berlangsung mengenai perlu tidak nya pembangunan nuklir adalah bagian dari kepentingan. Lihat saja kasus negeri Iran, Anda bisa saksikan semenjak Ahmadinejad menjadi pemimpin, Amerika semerta-merta memutus hubungan dengan negeri ini. Mungkin hal ini lah yang menjadi ketakutan bagi pemerintah kita. Mental para pemimpin di negeri ini mungkin adalah mental pengusaha lemah. Yang hanya mementingkan keuntungan namun tidak ingin rugi besar.

Jika dihitung-hitung, jelas negeri ini akan mengalami masa kehancuran jika tidak ikut intervensi asing. Namun untuk sekitar 30 tahun yang akan datang, mungkin negeri ini bisa seimbang dengan negeri lain, bahkan lebih baik. Lihat saja, hampir seluruh sumber daya energi bumi ada di Indonesia, sebut saja energi panas bumi, batu bara, minyak,dan gas. Bahkan beberapa tahun lalu, gas yang diperoleh dari pengolahan minyak bumi di negeri ini di buang-buang begitu saja, karena tidak ada yang mengolah dan harganya yang relatif lebih murah tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh untuk mengolah  minyak bumi. Anda bisa bayangkan betapa arogan dan tidak visionernya teknokrat-teknokrat dulu.

Mengubah masa depan negeri ini dan mental rakyatnya tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Menurut sejarah, 32 tahun negeri ini dikendalikan oleh Soeharto dan kroninya, dan banyak pula catatan-catatan buruk yang ia telah tinggalkan. Adapun kebaikan yang ia berikan, semuanya adalah kebaikan semu yang pada akhirnya menjadi bala bagi generasi di masa depan.

Rakyat di negeri ini terlalu santai, dan bahkan terlalu santainya hingga tidak dapat menerima khotbah jumat lebih dari 10 menit. Akibatnya hal-hal penting menjadi tidak esensial jika disampaikan namun bisa menjadi pemicu pertikaian jika disinggung.

Kalau saja anda tahu apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini, ketahuilah bahwa sebenarnya anda tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di negeri ini. Karena walaupu tertulis di UUD'45 kita sudah merdeka namun saat ini adalah era penjajahan, baik secara moral, teknologi maupun ilmu pengetahuan. Ketahuilah era ini adalah era paling menyedihkan bagi negeri ini, dimana krisis yang kita alami tidak menyerang fisik tapi merongrong secara mental.

Lalu apa yang bisa di lakukan?

Hal yang paling sederhana namun hampir tidak mungkin dilakukan adalah, dengan memotong satu generasi di pemerintahan. Karena walau bagaimanapun, sejak 32 tahun Soeharto menjadi nahkoda, yang namanya KKN itu sudah mendarah daging.

Opsi lainnya adalah menciptakan Generasi Emas. Kita butuh generasi yang mempunyai karakter bersikap ksatria dan takut mencuri. Kedua sikap ini adalah modal penting untuk pembangunan negara.

Selanjutnya, jangan takut mati. Menurut statistik beberapa tahun lalu, masih sekitar 80% penduduk Indonesia mayoritas beragama islam. Tapi semuanya kebanyakan takut mati, terlalu banyak pikiran dan lupa kalau hidup di dunia ini hanyalah sebuah persinggahan dan kehidupan sesungguhnya adalah nanti di akhirat kelak.

Mungkin saat ini Negeri ini sedang mati suri untuk suatu saat hidup kembali dengan penuh hikmah dan pembelajaran.

Wassalam.

4 comments:

  1. turun prihatin dengan keadaan negri kita .. :(

    ReplyDelete
  2. bgitulah gan, semakin bnyak fakta yang diketahui, makin menyakitkan untuk di dengar... :(

    ReplyDelete
  3. anak2 ITB lulus cuma jadi kacung di perusahaan2 pengeksploitasi SDA kita.bukannya malu malah bangga.

    ReplyDelete
  4. mengutip kata2 ente broo..

    "Rakyat di negeri ini terlalu santai, dan bahkan terlalu santainya hingga tidak dapat menerima khotbah jumat lebih dari 10 menit. Akibatnya hal-hal penting menjadi tidak esensial jika disampaikan namun bisa menjadi pemicu pertikaian jika disinggung."

    prihatin.. :(

    ReplyDelete

Facebook



Followers